Badai Matahari Meningkat di 2012


Sumber LIPUTAN 6 :

https://i2.wp.com/www.ingateros.com/wp-content/uploads/2010/08/badai-matahari-tsunami-matahari-41.jpg

 

Liputan6.com, Washington: Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memperingatkan jika sepanjang tahun 2012 dan 2013 aktivitas matahari tengah meningkat dan mengakibatkan badai matahari yang lebih sering di bumi. Badai matahari (coronal mass ejection/CME) merupakan pelepasan energi besar radiasi dan gas pembakaran dari permukaan matahari. Radiasi ini menyebar ke luar angkasa dan akan sampai ke atmosfer bumi.

Badai matahari yang cukup besar bahkan bisa mengakibatkan badai magnetik di bumi hingga kerusakan listrik, sinyal telepon, dan kekacauan Global Positioning System (GPS). Fenomena alam pelepasan plasma panas dari Matahari sebenarnya merupakan hal yang wajar terjadi. Tapi aktivitas matahari tengah memasuki siklus 11 tahunan, di mana akan mencapai puncaknya pada 2013 nanti.

Namun, penduduk bumi tidak perlu khawatir karena badai kali ini tidak akan menimbulkan kekacauan alam. Malah, akan menghasilkan fenomena alam indah, aurora. “Ada 20-40 persen peluang terjadinyna badai geomagnetik,” ujar Solar Dynamics Observatory NASA dalam akun Twitternya. “Jika Anda tinggal di dataran tinggi, coba perhatikan terjadinya aurora.”

NASA juga menegaskan sudah siap untuk mengatasi badai matahari ini. Namun, yang disayangkan adalah terganggunya kehidupan sosial masyarakat karena saat ini mereka sudah sangat tergantung dengan teknologi yang bakal bermasalah saat badai matahari menghantam.

“Masyarakat modern sangat bergantung pada sistem berteknologi tinggi seperti GPS dan komunikasi satelit. Semua ini sangat rentan dengan badai matahari,” kata Lika Guhathakurta sebagai ahli fisika dari NASA. Untuk mengatasinya, NASA mengaku sudah bekerja sama dengan beberapa perusahaan penyedia teknologi untuk mewaspadai dampak badai matahari.(NatGeo/ADO)

http://pakarfisika.files.wordpress.com/2008/12/badai_matahari_2012_pakarfisika.jpg

Sumber Info : http://tekno.liputan6.com

 

Sumber KOMPAS :

JAKARTA, KOMPAS.com — Badai Matahari mungkin tak akan melenyapkan Bumi, hanya berpotensi menimbulkan gangguan telekomunikasi, navigasi, dan kelistrikan. Tapi bagaimana dampak badai Matahari bagi Bulan yang ukurannya lebih kecil dan tidak memiliki atmosfer? Akankah badai Matahari melenyapkan Bulan?

Studi terdahulu mengungkap bahwa angin Matahari yang memiliki muatan bisa mengakibatkan material di permukaan Bulan terlontar. Studi terbaru NASA mengungkap bahwa dengan prosentase ion berat seperti helium, oksigen, dan besi yang lebih tinggi, maka badai Matahari bisa melontarkan lebih banyak material dari Bulan.

“Kami menemukan bahwa ketika awan plasma yang sangat massif ini mengenai Bulan, ia beraksi seperti ‘penghambur pasir’ dan segera mengangkat material mudah menguap dari permukaan Bulan,” kata William Farrel, pimpinan Dynamic Response of the Environment at the Moon (DREAM) dari NASA Goddard Space Flight Center.

Farrel yang terlibat penelitian terbaru NASA tersebut seperti dikutip National Geographic, Jumat (9/12/2011), menuturkan, “Model yang dikembangkan memprediksi bahwa 100 – 200 ton material Bulan, atau setara dengan muatan 10 bak truk, bisa terhambur akibat lontaran massa korona besar selama 2 hari.”

Rosemary Killen, juga dari NASA Goddard Space Flight Center, mengatakan bahwa sekali terhambur, 90 persen massa material Bulan terbang ke angkasa. Partikel itu akan terionisasi, tertarik bersama angin Matahari. Partikel tersebut ada dalam bentuk atomik, jadi tidak memproduksi hujan meteor.

Hasil studi ini masih harus diuji lagi. Tahun 2013 adalah puncak aktivitas Matahari, di mana frekuensi badai Matahari juga akan meningkat, Wahana Lunar Atmosphere and Dust Environment Explorer (LADEE) akan membuktikan kebenaran studi ini. Jika benar, maka partikel bisa mencapai ketinggian 20-50 km dari permukaan Bulan.

Nah, lalu, apakah dengan terlontarnya material Bulan ke angkasa ini akan melenyapkan Bulan? Tidak. Jumlah partikel yang terlontar sangat kecil dibandingkan massa Bulan keseluruhan. Di samping itu, material yang terlontar akan menyeimbangkan partikel yang masuk dari meteorit dan angin Matahari sendiri.

Jadi, Bulan tidak akan lenyap atau tererosi secara perlahan kemudian hilang. Bahkan, jejak pendaratan astronot di Bulan masih akan ada dan bisa terlihat hingga jutaan tahun mendatang, bila manusia masih punya kesempatan melihatnya. Demikian studi yang diterbitkan di Journal of Geophysical Research-Planet itu.

Secara terpisah, astrofisikawan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mengatakan bahwa badai Matahari justru akan berefek pada planet lain yang tidak memiliki medan magnet. Atmosfer dari planet-planet tersebut akan terkikis sedikit demi sedikit.

“Badai matahari yang masuk itu, kan, merupakan partikel energetik. Ini memungkinkan terjadinya penghilangan atmosfer, penghapusan sedikit demi sedikit. Atmosfer planet-planet itu akan makin menipis,” kata Thomas saat dihubungi Kompas.com, Rabu (4/1/2012) hari ini.

Bagi Bumi, efek yang sama tidak terjadi. Sebabnya, Bumi memiliki medan magnet yang diperoleh karena inti Bumi memiliki banyak kandungan besi. Sementara, bagi planet gas seperti Jupiter, badai Matahari juga takkan begitu berpengaruh karena jarak Matahari dan Jupiter yang sangat jauh.

Sumber Info : http://sains.kompas.com

Iklan

About D14NF486dhifana

Angin,,menhempaskan nafasnya menggodaku untuk pergi dari tempatku Ku ingin mengikutinya,, kemanapun dia pergi,,ku ingin bersama angin terus Lihat semua pos milik D14NF486dhifana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: